Vibiz Media

Vibiz Media
Pasangkan Iklan anda di web portal kami

Berita Daerah

Berita Daerah
Media Pemasangan Iklan Daerah & Investasi Daerah

Vibiznews

Vibiznews
Media Pemasangan Iklan Seputar Investasi & Ekonomi

Info Teknologi

Info Teknologi
Media Pemasangan Iklan Seputar Teknologi

Info Belanja

Info Belanja
Media Pemasangan iklan Seputar Market

Training COA

Training COA
Training COA bersama Property Bisnis Academy

Banjir Bandang Sergap Majalaya

Banjir bandang kembali melanda beberapa desa di kabupaten Bandung dimana ribuan rumah warga di lima desa di Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung terendam banjir setinggi 1 meter. Banjir bandang tersebut terjadi sekitar pukul 17.00 dan ketinggian air hingga 1 meter.

Akibat banjir ini warga mengungsi ke tempat yang aman di kantor desa dan kecamatan, diantaranya ratusan lansia dan balita dievakuasi ke tempat tersebut untuk menghindari rendaman air. Tercatat, enam pabrik tekstil mendadak berhenti beroperasi lantaran diserang banjir.

Banjir yang dialami warga desa ini sudah keenam kalinya terjadi dalam bulan ini dan sangat melelahkan masyarakat desa tersebut. Banyak kerugian yang diderita karena banjir ini, karena banjir ini juga sudah 6 pabrik tekstil berhenti operasi.

Banjir ini membuat akses ke 5 desa tersebut terhalang dikarenakan lumpuhnya lalulintas dari dan menuju desa-desa tersebut. Sungai yang meluap di kecamatan Majalaya ini merupakan sungai Citarum.

Hingga sekarang belum ada usaha dari pemerintah kabupaten Bandung atau juga dari pemda Jabar mengatasi bencana ini. Hal yang dilakukan pemda setempat baru petugas yang mengevakuasi warga yang terendam rumahnya. Tidak cukup hanya evakuasi saja tapi juga usaha pencegahan berikutnya.

Pertamina Dihimbau untuk Tambah Armada

Pemkab Bojonegoro, Jatim, mengimbau Pertamina menambah armada truk tangki pengangkut bahan bakar minyak (BBM), terutama solar sebagai usaha mengatasi kelangkaan solar.

"Antrean kendaraan bermotor berbahan solar selalu terjadi di semua SPBU karena kedatangan truk tangki pengangkut solar tidak bersamaan," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bojonegoro Bambang Suharno, Senin.

Ia menyampaikan hal itu setelah mengumpulkan pengurus SPBU di wilayahnya sebagai antisipasi mengatasi terjadinya kelangkaan solar dan antrean kendaraan bermotor di SPBU, pekan lalu.

Bambang, pemilik atau perwakilan SPBU, menuturkan kelangkaan solar dan antrean kendaraan bermotor berbahan solar di semua SPBU terjadi karena kedatangan pasokan solar di SPBU waktunya tidak bersamaan.

"Begitu ada pasokan solar datang di SPBU yang semula kosong langsung diserbu kendaraan bermotor," ujarnya.

Apalagi, katanya, pengurangan kuota solar pada 2013 tidaklah terlalu besar jika dibandingkan realisasi solar tahun lalu. Realisasi solar tahun lalu 63.644 kiloliter di 16 SPBU, sedangkan kuota solar tahun ini sebanyak 61.882,618 kiloliter.

Ia mencontohkan salah satu SPBU yang biasanya memperoleh pasokan solar sebanyak 24 ribu liter/hari berkurang hanya memperoleh pasokan 16 ribu liter/hari.

"Seharusnya kelangkaan solar tidak akan terjadi, sebab pengurangan kuota solar tidaklah terlalu besar," jelas dia.

Sementara itu, realisasi premium tahun lalu 85.813 kiloliter, sedangkan kuota premium tahun ini sebanyak 88.659,971 kiloliter.

Menghadapi kelangkaan solar yang terjadi di daerahnya, Bambang menyatakan akan berkirim surat kepada BPH Migas dan Pertamina meminta ada penambahan armada pemasok solar.

Mengenai pembeli dalam jerigen, Bambang meminta SPBU tetap melayani, sebab masyarakat membutuhkan membeli solar di dalam jerigen untuk kebutuhan traktor pertanian, penggilingan padi, mesin pompa air juga industri.

Hanya saja, lanjut dia, pembelian solar di dalam jerigen untuk kebutuhan traktor dan penggilingan padi harus memperoleh surat keterangan dari kepala desanya masing-masing.

Semengtara untuk kebutuhan solar untuk mesin pompa air areal pertanian harus memperoleh rekomendasi dari Dinas Pertanian (Disperta) dan kebutuhan solar untuk industri harus memperoleh rekomendasi dari Disperindag.

Harga Beras di Kabupaten Bantul Cenderung Stabil

Harga beras berbagai jenis di pasar tradisional Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pekan ini cenderung stabil setelah sebelumnya sempat turun harga tipis akibat persediaan melimpah.

Pedagang beras di pasar tradisional Niten, Bantul, Ngatiyem, Jumat mengatakan, seperti beras jenis IR 1 pekan ini stabil rata-rata Rp8.000 per kilogram, kemudian beras kualitas IR 2 pada kisaran harga Rp7.600 per kilogram.

"Harga beras stabil karena saat ini sebagian petani masih menikmati musim panen di beberapa wilayah, sehingga persediaan di pasar melimpah dan dapat memenuhi permintaan konsumen," katanya.

Menurut dia, harga beras di pasaran termasuk di Bantul tidak seperti bahan kebutuhan pokok lainnya yang harganya cenderung fluktuatif, karena persediaan beras didukung dengan produksi padi di daerah itu.

"Kalau untuk beras kecenderungan harganya stabil, meski awal panen lalu sempat turun harga, namun pekan ini cenderung stabil normal, untuk beras lain seperti beras C4 berkisar pada Rp8.000 per kg sedangkan beras jawa Rp9.000 per kg," katanya.

Meski demikian, kata dia, pedagang tidak mau berspekulasi terhadap pergerakan harga beras apakah terus stabil atau turun dan sebaliknya, namun dirinya hanya akan mengikuti harga sesuai mekanisme pasar yang terjadi.

Hal yang sama juga dikatakan Sugiyat pedagang sembako di pasar Bantul, yang mengatakan selain beras harga bawang merah dan bawang putih pekan ini masih stabil meski beberapa pekan lalu sempat turun harga.

Ia mengatakan, harga bawang merah pekan ini stabil Rp40.000 per kilogram, sempat turun dari sebelumnya yang mencapai Rp50.000 per kilogram, sedangkan bawang putih harganya juga stabil rata-rata Rp40.000 per kilogram.

"Stabilnya harga komoditas ini karena pasokan barang ke sejumlah pasar tradisional tidak ada kendala setelah sebelumnya sempat terlambat akibat sarana transportasi yang kurang lancar," katanya.

Ia menyebutkan untuk cabai rawit hijau pekan ini stabil pada kisaran Rp16.000, kemudian cabai merah keriting berkisar Rp15.000 per kilogram, sedangkan harga cabai rawit merah di pasaran masih tinggi berkisar Rp35.000 per kilogram.

"Sedangkan telur ayam ras turun tipis dari Rp16.000 pada minggu lalu menjadi Rp14.000 per kilogram, kemudian daging ayam ras turun dari Rp28.000 menjadi Rp25.000 sampai Rp26.000 per kilogram.

Pemkab Temanggung Berikan Bantuan Dana Sosial

Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan UPK Kecamatan Kandangan memberikan bantuan dana sosial alokasi tutup buku tahun 2012. Penyerahan Bantuan secara simbolis diberikan langsung oleh Wakil Bupati Temanggung Ir. Budiarto, MT di halaman kantor Kecamatan Kandangan Selasa (16/04).
Hadir dalam acara tersebut Ketua Pengerak PKK Ibu Eny Budiarto, Kepala Bapermades Drs. Sigit Purwanto, MM, , Pimpinan Bank Jateng Temanggung, Camat Kandangan, Muspika Kecamatan Kandangan, dan seluruh Kepala Desa di Kecamatan Kandangan.
Berdasarkan laporan ketua PNPM mandiri Pedesaan UPK Kecamatan kandangan Iwan Setiawan, SE, pada akhir tahun 2012 ini surplus bersih atau keuntungan bersih UPK kecamatan Kandangan sebesar Rp.560.295.631,00.
Dari keuntungan tersebut Iwan menambahkan, 32% sejumlah Rp. 163.600.000,- digunakan untuk kegiatan sosial yang diperuntukkan bagi masyarakat yang kurang mampu dan RTM yang diberikan dalam bentuk bantuan bibit kambing untuk 52 orang, pemugaran rumah untuk 16 rumah tidak layak huni, bantuan sarana usaha untuk usaha kecil, dan bantuan isidentil bagi keluarga kurang mampu.
Camat Kandangan Tri Raharjo, mengatakan PNPM Mandiri Pedesaan di Kecamatan Kandangan ini sungguh luar biasa pengelolaannya sehingga mendapat juara di tingkat Nasional sebagai penggerak Program PNPM mandiri pedesaan terbaik.
Selain itu dengan keberadaan PNPM di kecamatan sangat membantu menurunkan jumlah RTM dengan kajian jumlah RTM di Kecamatan Kandangan dari tahun demi tahun terus mengalami penurunan yang cukup siknifikan,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Temanggung menyampaikan banyak terima kasih kepada PNPM mandiri pedesaan UPK Kecamatan Kandangan dan semua pihak yang telah berperan ke dalam kegiatan ini demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meningat bahwa berdasarkan pendataan di Kabupaten Temanggung masih banyak RTM.
UPK merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari PNPM yang sejak awal kehadirannya sebagai program yang berkomitmen untuk menangani dan mengurangi angka kemiskinan di Indonesia yang sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Kehadiran PNPM dan UPK tidak sekedar mengajak masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pembangunan semata namun juga memberikan akses bagi masyarakat miskin pada khususnya untuk memperoleh kehidupan yang layak dan sejahtera.
Maka dalam kesempatan itu berharap UPK terus melanjutkan dengan baik sehingga 5 tahun kedepan bias mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Temanggung . kepada penerima bantuan wabub meminta untuk bias manfaatkan bantuan yang telah diberikan dan digunakan dengan baik.

Dana Bos di Jabar Tak Cair Akibat Kartu UN Ditahan

(Berita Daerah - Bandung) Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Wahyudin Zarkasih mengancam mencoret SMA atau SMK dari daftar BOS bila terbukti meyandera kartu peserta Ujian Nasional tingkat SMK dan SMA yang digelar mulai Senin. “Jangan coca coba, ada laporan penahanan kartu peserta UN, sanksinya dicoret dari daftar penerima BOS,“ tandasnya.

Dia memaparkan, tak ada alasan sekolah menahan kartu peserta UN milik anak didiknya dengan alasan belum menuntaskan administarasi. “ Tidak ada alasan menahan kartu UN, semuanya sudah tak ada masalah dan sudah diurus melalui Dana BOS,“ tegasnya.

Memang, akunya hingga Senin belum ada laporan mengenai penyenderaan kartu peserta UN. “ Mudah mudah tidak terjadi. Kalau ada, sangsi akan segera dijatuhkan,“ ujarnya.

Berdasar pemantauan, pelaksanaan UN hari pertama UN SMA, SMK dan MA di Bandung berjalan kondusif. Peserta UN sebanyak 39.449, terdiri dari 18.555 peserta UN SMA, 19.374 peserta UN SMK dan 1.520 pesrta UN Madrasah Aliyah (MA) diawasi 4.310 orang. “ Kami nerharap UN yang digelar selama tiga hari akan berjalan lancar,“ kata Kasi Kurikulum SMA, Disdik Kota Bandung Supandi.

Berita Investasi Potensi Panas Bumi Ditawarkan Pandeglang

Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten menawarkan pengelolaan potensi panas bumi pada investor.

"Kita memiliki potensi panas bumi yang berlokasi di Gunung Karang, kami menawarkan pada investor yang ingin mengelola potensi tersebut," kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Pandeglang Girgi Jiantoro di Pandeglang.

Menurut dia, potensi panas bumi yang terkandung di bawah Gunung Karang tersebut belum diketahui, namun diperkirakan cukup besar.

Dari analisis pemodelan gaya berat daerah penelitian, kata dia, didapatkan suatu gambaran tentang keberadaan beberapa struktur terban dan terobosan batuan intrusi yang diperkirakan berfungsi sebagai cebakan dari potensi geotermal.

Batuan intrusi muda di bawah Gunung Karang diinterpretasikan sumber panas, sementara batuan sedimen tersier kemungkinan berfungsi sebagai reservoir.

Kemungkinan potensi geotermal juga diindikasikan oleh keberadaan beberapa mata air panas yang tersingkap di daerah penelitian.

Potensi yang ada di Gunung Karang tersebut, jika berhasil dijadikan energi diperkirakan bisa menghasilkan hingga 225 mega watt.

"Kita siap memfasilitasi pada investor yang tertarik untuk mengelola potensi panas bumi itu," katanya.

Harga Sembako di Pasar Wates Terpantau Stabil

Harga kebutuhan pokok khususnya beras di tingkat pedagang di Pasar Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, stabil.

Seorang pedagang kebutuhan pokok di Pasar Wates, Bunda, di Kulon Progo, Senin, mengatakan harga beras kualitas medium rata-rata Rp6.800 per kilogram, sedangkan kualitas premium Rp8.500.

"Pada April dan Mei harga beras stabil, karena berbagai daerah telah panen, khususnya di Kulon Progo. Kenaikan beras akan terjadi pada Juni hingga Agustus," katanya.

Ia mengatakan harga beras IR 64 lokal Rp6.800-Rp7.000 per kilogram, IR 64 dan C4 Rp7.500, beras premium seperti Mentik Wangi dan Raja Lele berkisar Rp8.500.

"Satu minggu terakhir permintaan beras mengalami penurunan. Sekarang saya hanya bisa menjual eceran dua kuintal per hari dari sebelumnya di atas tiga kuintal," katanya.

Ia mengatakan harga telur Rp13.500 per kilogram, gula pasir impor rata-rata Rp11.500 atau mengalami kenaikan Rp500 dari sebelumnya Rp11.000, sedangkan gula pasir lokal rata-rata Rp11.000 atau turun Rp1.000 dari sebelumnya Rp12.000.

Selain itu, harga berbagai jenis tepung terigu stabil. Harga tepung terigu merek Segitiga Biru rata-rata Rp7.060 per kilogram, Semar Rp6.100, dan Cakra Kembar Rp7.400.

"Harga gula pasir putih atau impor mengalami kenaikan, untuk gula pasir lokal merah turun," katanya.

Seorang pedagang sayur di Pasar Wates, Sanijah, mengatakan harga bawang putih dan bawang merah stabil. Harga bawang putih jenis cincau berkisar Rp18.000-Rp20.000 per kilogram, cating Rp32.000-Rp35.000, sedangkan bawang merah stabil tinggi berkisar Rp45.000-Rp50.000.

Ia mengatakan harga cabai rawit stabil tinggi antara Rp30.000-Rp35.000 per kilogram, sedangkan cabai keriting Rp15.000- Rp18.000.

"Bawang merah stabil tinggi, karena permintaan tinggi sementara stok terbatas. Untuk bawang putih, pasokan mulai lancar," katanya.

Seorang pegadang ayam potong di Pasar Wates, Yulianti, mengatakan harga ayam potong tidak pernah mengalami perubahan atau berkisar Rp22.000-Rp24.000 per kilogram.

"Harga ayam potong hampir dua bulan terakhir tidak mengalami kenaikan, meski permintaan mengalami peningkatan hingga 20 persen," katanya.

Harga Telur Ayam di Yogyakarta Alami Penurunan

(Berita Daerah - Jawa) Harga bahan kebutuhan pokok di Kota Yogyakarta pada awal April, khususnya telur ayam ras, mulai turun dibanding akhir bulan lalu, sedangkan komoditas lain seperti beras dan minyak goreng cenderung stabil.

"Harga telur sudah mulai turun. Dibanding bulan lalu, penurunannya cukup banyak, bisa mencapai lebih Rp1.000 per kilogram (kg)," kata salah seorang pedagang bahan kebutuhan pokok di Pasar Beringharjo Heni Purwanti di Yogyakarta, Jumat.

Telur ayam ras dijual dengan harga Rp14.000 per kg, setelah sebelumnya bisa mencapai harga Rp15.500 per kg pada akhir Maret atau lebih dari Rp16.000 per kg pada awal Maret.

Sementara itu, beras jenis medium hingga premium dijual dengan harga yang cenderung stabil, yaitu Rp7.500 per kg hingga Rp8.500 per kg dan minyak goreng curah dijual dengan harga Rp9.000 per kg.

Berdasarkan pemantauan dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta pada awal April, harga telur ayam ras cenderung turun dibanding bulan lalu.

Telur ayam ras dijual dengan harga rata-rata Rp14.200 per kg dengan harga jual tertinggi Rp14.500 per kg dan harga jual terendah Rp14.000 per kg, sedang telur ayam kampung dijual dengan harga rata-rata Rp1.410 per butir, dengan harga tertinggi Rp1.500 per butir dan harga jual terendah Rp1.350 per butir.

Sementara itu, beras jenis C4 dan IR 64 dijual dengan harga rata-rata Rp8.020 per kg dengan harga jual tertinggi Rp9.000 per kg dan harga jual terendah Rp6.800 per kg.

Beras IR I dan IR II dijual dengan harga rata-rata Rp7.300 per kg, sedang harga jual tertinggi untuk IR I dadalah Rp8.300 per kg dan harga terendah Rp7.000 per kg, sedang IR II dijual dengan harga tertinggi Rp7.500 per kg dan harga terendah Rp6.800 per kg.

Mentik Wangi Kualitas 1 dijual dengan harga rata-rata Rp8.440 per kg dengan harga jual tertinggi Rp9.000 per kg dan harga jual terendah Rp8.000 per kg, sedang Mentik Wangi Kualitas 2 dijual dengan harga rata-rata Rp7.925 per kg dengan harga jual tertinggi Rp8.200 per kg dan harga jual terendah Rp7.500 per kg.

Komoditas gula pasir impor dijual dengan harga rata-rata Rp11.000 per kg, gula pasir Madukismo djual dengan harga rata-rata Rp11.500 per kg dan gula pasir lokal Rp11.375 per kg.

Minyak goreng curah dijual dengan harga rata-rata Rp9.120 per kg dengan harga jual tertinggi Rp10.000 per kg dan harga jual terendah Rp8.500 per kg, sedang minyak goreng kemasan dijual dengan harga rata-rata Rp12.700 per liter dengan harga jual tertinggi Rp14.000 per liter dan harga jual terendah Rp11.000 per liter.

Berbagai jenis tepung terigu, Segitiga Biru dijual dengan harga rata-rata Rp7.060 per kg, Semar Rp6.100 per kg dan Cakra Kembar Rp7.400 per kg.

Pasokan Buah Impor Sulit, Pedagang di Cirebon Berhenti Berjualan


(Berita Daerah - Jawa) Para pedagang di Cirebon, Jawa Barat, mengaku kesulitan pasokan buah impor sehingga mereka terpaksa berhenti berjualan.

Seorang pedagang buah impor di Pasar Perumnas Cirebon Ruhiyat di Cirebon, Kamis, mengaku pasokan berbagai jenis buah impor semakin terbatas sehingga dirinya sering kesulitan pasokan.

"Kiriman dari agen buah impor di Cirebon dibatasi, dampaknya harga terus melambung karena permintaan cukup tinggi," katanya.

Aneka buah yang semakin sulit dikirim dari agen, yakni jeruk yang terdiri atas jeruk siam, jeruk mandarin, lemon, dan pamelo, anggur, apel, serta lengkeng.

"Padahal sangat diminati oleh pelanggan," katanya.

Seorang pemasok buah impor di Cirebon Hen San Lie mengaku kiriman buah impor semakin dibatasi sehingga pasokan untuk pedagang eceran terhambat.

Ia mengatakan kesulitan tersebut akibat kebijakan pemerintah yang membatasi aneka buah impor.

Dia memperkirakan puluhan agen buah impor terancam gulung tikar.

Seorang pedagang buah lain Casnadi mengaku mengandalkan pasokan buah impor semakin sulit, sehingga saat ini memanfaatkan buah musiman kiriman petani lokal.

Keuntungan dari buah musiman hasil petani lokal, katanya, masih cukup menjanjikan.

Selain itu, kata dia, kiriman secara rutin buah tersebut diminati konsumen di Cirebon.

Ia mengatakan buah lokal yang diminati konsumen, seperti durian berasal dari Jawa Tengah dan Cirebon, duku (Palembang), rambutan (Subang), salak pondoh (Sleman).

Okupansi Hotel Berbintang di DIY Turun

(Berita Daerah - Jawa) Tingkat penghunian kamar atau okupansi hotel bintang di Daerah Istimewa Yogyakarta secara rata-rata pada Februari 2013 sebesar 47,10 persen.

"Angka itu mengalami penurunan sebesar 3,02 poin dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang menunjuk besaran angka 50,12 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Wien Kusdiatmono, di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, rata-rata lama menginap wisatawan di hotel bintang di DIY pada Februari 2013 menunjuk besaran angka 1,73 malam.

Angka itu, kata dia, mengalami penurunan 0,12 malam dibandingkan dengan rata-rata lama menginap wisatawan bulan sebelumnya.

"Rata-rata tamu menginap terlama mencapai 2,00 malam terjadi pada hotel bintang lima, sedangkan terpendek 1,60 malam pada hotel bintang tiga," katanya.

Ia mengatakan tingkat penghunian kamar hotel nonbintang atau akomodasi lain di DIY pada Februari 2013 rata-rata sebesar 26,85 persen.

"Angka itu turun sebesar 7,53 poin dibandingkan dengan Januari 2013 yang mencapai besaran angka 34,38 persen," katanya.

Menurut dia, pada hotel nonbintang atau akomodasi lain rata-rata lama menginap 1,34 malam, turun 0,28 malam dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang menunjuk besaran angka 1,62 malam.

"Rata-rata menginap terpanjang selama 1,40 malam pada kelompok kamar 10-24, sedangkan terpendek 1,23 malam pada kelompok kamar 25-40," katanya.

Ia mengatakan jumlah wisatawan yang menginap di hotel selama Februari 2013 tercatat sebanyak 233.458 orang yang terdiri atas 219.368 wisatawan nusantara dan 14.090 wisatawan mancanegara.

"Dari jumlah tersebut wisatawan yang menginap di hotel bintang sebanyak 73.815 orang, sedangkan yang menginap di hotel nonbintang atau akomodasi lain sebanyak 159.643 orang," katanya.

Inflasi di Jawa Barat Sebesar 0,79 Persen


(Berita Daerah - Jawa) Indeks Harga Konsumen (IHK) gabungan Jawa Barat sepanjang Maret 2013 meningkat atau mengalami inflasi sebesar 0,79 persen dan lebih tinggi dibanding inflasi nasional sebesar 0,63 persen.

"Inflasi Jabar Bulan Maret 2013 0,79 persen, masih lebih tinggi dari inflasi nasional, penyebabnya tidak lepas dari adanya kenaikan di sektor bumbu-bumbuan dan buah-buahan," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jabar Doddy Gunawan Indra di Bandung, Senin.

Total inflasi Januari hingga Maret 2013 di Jabar sebesar 2,65 persen, dan inflasi dalam dua belas terakhir yakni Maret 2012 hingga Maret 2013 tercatat 5,81 persen.

Lima kelompok pengeluaran masyarakat mengalami inflasi, meski di sisi lain ada penurunan untuk sektor bahan makanan yakni beras, telur ayam dan daging sapi yang cukup signifikan sehingga mengerem lejitan inflasi bulan Maret.

Sedangkan sektor sandang dan kesehatan mengalami deflasi masing-masing 0.57 persen dan 0,05 persen.

Tiga kota di Jabar mencatat inflasi di atas satu persen yakni Kota Cirebon 1,70 persen, Kota Bogor 1,50 persen dan Kota Depok 1,05 persen. Sedangkan Kota Bandung inflasi 0,63 persen.

"Kelompok bahan makanan merupakan kelompok pengeluaran yang memberikan andil paling tinggi yakni 0,74 persen, terutama bumbu-bumbuan andil tertinggi sebesar 0,92 persen," kata Doddy.

Komoditi signifikan penyumbang inflasi antara lain bawang merah sebesar 0,65 persen dan bawang putih sebesar 0,24 persen.

Terkait tingginya inflasi di Jabar melebihi inflasi nasional pada Maret 2013, menurut Doddy tidak lepas dari adanya kekurangan pasokan seperti bumbu-bumbuan, khususnya bawang merah dan abwang putih.

Kemudian penghentian impor hortikultura sejak dua bulan lalu, meski akhirnya dibuka kembali setelah adanya pembenahan.

"Pengaruh sektor bumbu-bumbuan sangat signifikan, juga buah-buahan seperti yang terjadi di Bogor, Cirebon dan Depok," katanya Doddy.

Penemuan Situs Peninggalan Jaman Kerajaan Kediri di Desa Dadapan Kediri

(Berita Daerah - Kediri) Akreolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto Wilayah Jawa Timur, mengukur batu bata yang diperkirakan bangunan situs petirtaan peninggalan jaman kerajaan Kediri di waduk perairan di Desa Dadapan, Pesantren, Kediri, Jawa Timur, Jumat (22/3). Pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya akan melakukan penggalian untuk memperjelas penemuan situs tersebut.

Gudang Penyimpanan Dibutuhkan oleh Petani Bawang



(Berita Daerah - Jawa) Petani bawang membutuhkan gudang untuk menyimpan hasil panen agar bisa bertahan lama dan menghindari harga jatuh saat panen, kata peneliti Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jamhari.

"Petani seharusnya tidak menjual sekaligus hasil panen bawang, tetapi mereka tidak memiliki gudang yang layak untuk menyimpan bawang mereka agar bisa bertahan lama. Akibatnya, petani sering menghadapi risiko harga jatuh," katanya di Yogyakarta.

Dalam konteks itu, menurut dia, pemerintah perlu membuat gudang penyimpanan agar petani bisa tunda jual bawang saat panen. Petani juga selayaknya mendapat pinjaman lunak selama hasil panen mereka masih disimpan di gudang.

Ia mengatakan kenaikan harga bawang disebabkan menurunnya produksi bawang dalam negeri karena petani menunda menanam bawang saat memasuki musim hujan, sedangkan distribusi bawang impor dari pelabuhan ke konsumen terhenti.

"Lonjakan harga bawang karena terkait dengan distribusi. Saat ini produksinya rendah karena musim hujan," kata Jamhari yang juga Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menurut dia, biasanya pemerintah melakukan impor setiap awal tahun, tetapi berton-ton bawang terhenti di pelabuhan. Kondisi itu menunjukkan aliran dari pelabuhan ke titik konsumsi tehambat.

"Terhambatnya distribusi bawang ditenggarai adanya permainan kartel antarimportir pascapemerintah membatasi kuota impor hortikultura sejak satu tahun yang lalu," katanya.

Ia mengatakan, pemerintah membatasi pintu masuk barang hortikultura hanya melalui tiga pelabuhan, yakni Pelabuhan Tanjung Perak, Belawan, dan Makassar.

"Dengan dibatasi tiga pintu masuk tersebut tentu transportasi menjadi semakin jauh. Kondisi itu menyebabkan aliran barang dari pelabuhan ke masyarakat terhambat," katanya.

Meskipun mendukung tujuan awal pemerintah membatasi impor hortikultura dalam rangka melindungi petani, Jamhari mengatakan, pemerintah perlu segera turun tangan jika terjadi hilangnya komoditas pangan di masyarakat. Pemerintah juga harus turun tangan jika harga bawang saat panen jatuh.

"Sekitar 88 persen petani menjual secara borongan semua hasil panen mereka di tempat. Mereka butuh uang untuk mencukupi kebutuhan, dampaknya semua harga jatuh," katanya.



Persediaan Bawang Di Kota Semarang Masih Terbatas


(Berita Daerah - Jawa) Sejumlah pedagang bawang merah dan bawang putih di Kota Semarang mengatakan hingga saat ini stok bawang masih terbatas, sehingga mereka terpaksa menjualnya meskipun dalam kondisi basah.

"Para pedagang di sini kebanyakan berjualannya di Pasar Johar, dan di sana hanya ada sekitar dua pedagang besar yang menyediakan bawang," kata Sari (60), pedagang bawang merah dan bawang putih di Pasar Peterongan Semarang, Rabu.

Ia mengatakan dari dua pedagang tersebut hanya tersedia bawang putih dan bawang merah dalam kondisi basah.

"Kalau bawang putih memang sebelumnya dibekukan agar tidak busuk karena barang impor. Untuk bawang merah sepertinya dari petani langsung. Musim hujan menjadikan bawang merah kondisinya basah," katanya.

Sari mengakui sejak Selasa (19/3) harga bawang putih dan bawang merah sudah mengalami penurunan meskipun belum mendekati harga awal sebelum terjadi kenaikan.

Harga bawang putih saat ini Rp48 ribu dari sebelumnya sempat menyentuh Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram. Sementara harga awal sebelum terjadi kenaikan berkisar Rp12 ribu per kilogram.

Penurunan harga juga terjadi pada harga bawang merah yang saat ini Rp36 ribu hingga Rp38 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp44 ribu per kilogram. Sementara harga awal bawang merah sebelum terjadi kenaikan Rp10 ribu per kilogram.

Penurunan harga bawang diikuti tingginya minat konsumen untuk kembali membeli komoditas tersebut.

"Saya lihat di televisi dan baca koran, harga bawang merah dan bawang putih sudah turun. Begitu tahu harga turun, jadinya belanja," kata Sri (56) warga Semarang Selatan.

Sri mengaku selama terjadi kenaikan harga bawang putih dan bawang merah, dirinya terpaksa harus mengurangi penggunaan dua komoditas tersebut dan menambah penyedap rasa.

"Jika biasanya bumbu untuk sayur menghabiskan delapan siung bawang merah dan tiga bawang putih, begitu harganya naik jadi berhemat hanya empat siung bawang merah dan satu bawang putih. Rasa masakan jadinya juga kurang sedap," katanya.

Sri berharap harga bawang merah dan bawang putih dapat kembali normal sama saat sebelum terjadi kenaikan.

Harga Rempah di Pasar Tradisional Yogyakarta Relatif Stabil


(Berita Daerah - Jawa) Harga rempah-rempah di sejumlah pasar tradisional di Kota Yogyakarta, Jumat, relatif stabil, karena barang tersedia dalam jumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

"Harga komoditas itu tidak mengalami perubahan sejak beberapa hari lalu," kata pedagang di Pasar Sentul Yogyakarta, Sulastri.

Menurut dia, harga lada saat ini masih tetap Rp60 ribu per kilogram, ketumbar Rp38.500 per kilogram, pala Rp36.500 per kilogram, dan jahe Rp45 ribu per kilogram.

"Harga rempah-rempah tidak berubah, karena pasokan lancar dan persediaan di pasar mencukupi, sehingga dapat memenuhi permintaan atau kebutuhan konsumen," katanya.

Ia mengatakan selama ini pasokan rempah-rempah tidak ada hambatan, sehingga barang selalu tersedia dalam jumlah yang cukup.

Apalagi, kata dia, dalam beberapa hari terakhir permintaan konsumen terhadap rempah-rempah tidak mengalami lonjakan, relatif normal.

"Pasokan rempah-rempah cukup lancar dan persediaan mencukupi. Kondisi itu menyebabkan harga rempah-rempah tidak mengalami perubahan, relatif stabil sejak beberapa hari lalu," katanya.

Pedagang di Pasar Demangan Yogyakarta Mulyadi mengatakan, harga rempah-rempah masih bertahan di kisaran yang sama dengan beberapa hari lalu.

Menurut dia, harga rempah-rempah sejak beberapa hari lalu tidak berubah, relatif stabil, karena pasokan lancar, persediaan mencukupi, dan permintaan normal.

"Harga lada masih tetap Rp61 ribu per kilogram, ketumbar Rp38 ribu per kilogram, pala Rp37 ribu per kilogram, dan jahe Rp45.500 per kilogram," katanya.

Target Ekspor Hortikultura Jateng 1 Kontainer Perhari


(Berita Daerah - Jawa) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada 2013 menargetkan ekspor komoditas hortikultura minimal satu kontainer per hari, kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jateng Aris Budiono.

"Hal tersebut disesuaikan dengan tingginya permintaan komoditas hortikultura di wilayah Jawa Tengah," katanya pada temu wicara dengan kelompok tani pada Festival Hortikultura Jateng 2013 di Sub Terminal Agribisnis Soropadan, di Temanggung, Senin.

Ia menyebutkan produk ekspor hortikultura Jateng, antara lain buncis, terong, melon, kentang, nanas, salak, semangka, durian, manggis, tanaman hias, dan aneka sayuran.

"Setiap tahun permintaan ekspor selalu meningkat, tahun 2011 mencapai 444 ton, pada 2012 sebanyak 927 ton. Negara tujuan bukan hanya Singapura saja, tetapi juga negara lain, seperti Cina, Malaysia, dan Arab Saudi," katanya.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim mengimbau para importir berupaya tidak mengimpor hasil hortikultura, karena hasil pertanian di dalam negeri sudah cukup baik.

"Memang peraturan untuk impor sekarang dipermudah, tetapi kami juga meminta pada importir untuk memberdayakan petani lokal, karena ketika petani dibina dengan baik pasti akan menghasilkan produk yang baik," katanya.

Ia mengatakan pasar ekspor hortikultura saat ini telah terbuka, antara lain ke Amerika Serikat, Rusia, Cina, Timur Tengah, Eropa, dan Asia Tenggara.

Direktur Utama PT Bumi Sari Lestari Agus Yuwono sebagai salah satu eksportir hortikultura di Jateng mengatakan saat ini pihaknya setiap hari mampu mengekspor berbagai komoditas, antara lain terong, buncis, cabai merah, dan cabai hijau ke Singapura dan Malaysia.

Ia menyebutkan setiap hari mampu mengirim sekitar satu ton melalui pesawat dan pada April mendatang bisa dua ton per hari.

"Banyak 'buyer' yang menunggu, bahkan di Singapura ada tiga 'buyer'. Untuk mencukupi kebutuhan ekspor, kami membangun kemitraan dengan petani sehingga setiap hari persediaannya selalu ada," katanya.